Saturday, 21 January 2012

Inilah Aku Tanpamu, Cinta.

Tulisan ini sebenarnya untuk mengikuti #15HariNgeBlogFF hari ke 8 tapi apa daya koneksi internet sedang labil, biasalah yaa :P
well, enjoy it.. dan silakan tinggalkan jejak kata :D

Inilah aku TANPAMU.

Ku ketikkan kalimat pendek itu di awal surat yang ku tulis pagi ini.
Sesekali menarik nafas nafas panjang yang terasa kian berat ketika akan melanjutkannya.
Meremas kertas menjadi gumpalan dan melemparkannya ke tempat sampah.
Menghapus airmata yang entah sejak kapan menetes.
Apa yang harus aku tulis di sana?
Apa harus kuceritakan bahwa aku terpuruk ke dalam lembah bersama para pendosa? Ataukah harus kuceritakan betapa airmataku tak pernah berhenti mengalir setiap kali mengingatnya? Perlukah ku katakan hati ini takkan pernah bisa sama lagi. Senyum dan tawa yang sempat kau sukai, mimpi-mimpi yang sempat ku tandai dengan namamu dan namaku, kita, kini, hancur?

Tanganku yang dulu bisa menulis hal-hal yang indah tentang dunia, hidup dan cinta, kini lebih sering kugunakan untuk menutup muka dan menghapus airmata.
Jika dulu suaraku fasih menyanyikan lagu-lagu untuk membuatmu tersenyum sekarang hanya mampu mengeluarkan isak tangis.
Dan kedua kakiku yang dulu pernah melangkah beriringan di sisimu, kini tak mampu membawaku kemanapun lagi.
Keduanya mati, semenjak kau pergi.

"Apalah arti setia dan cinta jika kita terpisah?"
Akhirnya kalimat itu kutulis, ya aku putuskan untuk menulis saja agar kamu langsung tahu ini surat dariku.
Setelah memulai dengan "Inilah Aku TANPAMU."
Aku melanjutkan lagi, aku tak boleh bohong, kita berjanji tak akan pernah saling menipu satu sama lain terlebih diri sendiri.
"Aku selalu baik-baik saja setelah bersamamu, setelah kau pergi banyak hal berubah, tapi aku selalu akan baik-baik saja setiap kali mengingat suatu saat kita akan bersama kembali."
"Aku, tanpamu, cinta, takkan pernah menjadi kita. Aku ingin kita abadi."
"Hari ini aku tuliskan ini, akan ku kirim bersama seluruh cintaku, dan surat ini akan kuhantarkan sendiri."

Kulipat surat itu dengan rapih, memasukkannya dalam amplop, meletakkannya di pangkuanku, mengambil bingkai fotomu dari atas meja riasku, memandangimu, rindu ini akan kusampaikan sendiri.
Aku berkaca sekali lagi, aku sudah siap, memakai pakaian hadiah ulang tahun terakhir darimu, aku tak ingin ulang tahun lagi jika kau tak akan datang, maka dari itu aku yang akan menemuimu.
Menyalakan korek dengan cepat, dan meletakkannya di pangkuanku, ahh aku tak merasa dingin lagi, sudah satu jam lebih setelah aku mandi menggunakan bensin yang susah payah ku ambil dari gudang, kursi roda ini menyulitkanku. Aku merasa hangat, sama hangatnya ketika di pelukmu.
Aku tersenyum mengingat kalimat penutup di surat yang kubawa, "Inilah Aku TANPAMU, yang selalu mencari cara untuk bertemu dan bersatu seperti dulu, menepati janjiku."


Fin.
@lia3x
#Mati bukanlah hal menakutkankan bila itulah satu-satunya cara bersama dengan orang yang di cinta. :)

2 comments:

LiLy said...

suka banget deh postingan yang ini.

gak nyangka kalo yang mau dikirimi surat itu udah meninggal.
ckckck..

so sweet *mewek*

SEPATAH RAHASIA said...

Hehehe,makasih Lily *sodorin tissue* :)