Saturday, 6 June 2015

Guru Ternyata Seru!

Kenapa posting foto ini?
Ya karena aku lagi kepikiran dan kangen.
Kangen sama gokilnya guru-guru ini
Konon beliau pada galak di sekolah.
Malah ada yang bisa bikin murid nahan napas kalau lagi nyuruh maju ngerjain soal di papan tulis.
Padahal ternyata seru banget bawaannya, mereka semua sepertinya terlahir dengan selera humor di atas rata-rata, ngebanyol, saling ledek, nyanyi dangdut dan goyang menirukan penyanyi aslinya, alhasil aku yang pendiam *halah banget* ketawa terus selama perjalanan.
Aku bahkan merasa mereka semua sedang berusaha menghibur aku yang terlihat tegang karena harus menemani 42 orang peserta yang merupakan guru dan karyawan sekolah favorit di kota Palembang.
Ternyata ini menjadi masa menyenangkan berdamai dengan diri sendiri karena bisa saja guru-guru yang menurutku nyebelin semasa sekolah dulu juga cuma jaim dan menjaga wibawa waktu sekolah.

Ini foto waktu hari ke-2 di Belitong, awalnya aki cuma mau fotoin mereka semua tapi akhirnya dipaksa ikutan foto ya udah dengan wajah lecek seadanya jadi ikutan nyempil deh. What a lovely night. Makanannya enak, suasana rumah makannya tempo dulu jadi rame, gimana gak rame lah 4 meja panjang kita kuasain. 😂

Lain waktu mau posting khusus soal jalan-jalan ini. Nanti. 😜

Ajakin aku jalan-jalan lagi dong pak bapak bu ibu guru. 😘

#SMPXavMariaGoesToBelitong
#Dinner
#MakPanggong
#Belitong

Ngomong-ngomong ada yang bisa nebak aku yang mana di foto? 😁😃

#GuruJugaManusiaBiasa
(L)
6 Juni 2015

Friday, 5 June 2015

They Can't Handle It

"I didn't tell you cos sometimes when you tell people the darkest thing, they can't handle it. They run away." -Ruby Simms

Itu alasan kenapa seseorang ga merasa perlu cerita apa-apa ke siapa-siapa.
Jangan terlalu banyak bertanya lagi.
Kalau dia mau cerita akan dilakukan tanpa perlu diminta
Kalau dia percaya semua akan lebih mudah
Dan jika menurutmu semua baik apa adanya
Perasaanmu padanya seharusnya tetap sama.



Jujur itu mudah. Kalau kamu bisa mengecap pahitnya.
05 Juni 2015
(L)

Pura-pura

Saya cuma pura-pura ga ingat
kalau kamu suka pura-pura lupa.

Menunggu janji
07 Juni 2015
(L)

Thursday, 4 June 2015

Pembalasan

Aku tersenyum sekali lagi melihat foto di layar ponselmu
menghela napas .....
memilih tombol option
send/share...
bbm group
select
Send

lalu foto yang sama
Set as BBM display picture


Sebentar lagi kamu akan merasakan sakit seperti apa yang aku rasakan.




"Don, kamu dipanggil ke ruang bp!"

Aku tersenyum dan mengangguk.

Di ruang BP kamu sudah berdiri entah sejak kapan, mungkin sejak jam istirahat sesaat setelah foto kukirimkan ke bbm grup sekolah kita.

.....
Kamu menatapku tajam.

Namun kupastikan tak akan kamu temukan apa-apa dari mataku. Akan kubuktikan padamu. Tentu saja cinta untukmu tak akan kamu temukan lagi di sana.
 
"Maaf... Pasti aku udah nyakitin kamu banget, sampai segitu teganya kamu kayak gini..., kamu itu udah mempertaruhkan masa depanku dan nama baik ayah kamu."
 Suaramu yang berbisik seraya mendekatkan wajahmu di telingaku. Percuma aku sudah telanjur sakit hati.

".......Maaf katamu? Ini belum seberapa!"
Suara dalam kepala berlarian berlomba-lomba mencapai mulut yang kututup rapat-rapat.
Tapi aku hanya balas menatapmu tajam.

"... Cinta itu ga bisa dipaksakan, Don. Aku gak cinta sama kamu dan gak punya alasan untuk bales perasaan minimal sama dengan rasa sayang kamu. Untuk apa kamu lakukan ini? Ga ada yang diuntungkan, Don!"
Kali ini suaramu makin keras setengah serak mungkin karena menahan amarah.

"Aku tak tahu apa-apa, Pak. Boleh kembali ke kelas?"
Aku sudah tidak tahan lagi mendengar ocehanmu.

Kepala sekolah dan guru BP hanya diam. Matanya menatap layar ponsel sambil menggeleng-gelengkan kepala dan aku yakin ia sedang melihat foto telanjangmu di pelukan ayahku. Namun kepalanya mengangguk perlahan saat melihatku.

Aku menatapmu sekilas, "makan itu cinta"

Kamu pasti bisa membaca gerak bibirku. Karena setelah itu Kamu menangis histeris.
*****

Save as BBM display picture.

Aku tersenyum puas melihat foto Ayah duduk di teras, membiarkan bahunya disandari juga telinganya dipenuhi celoteh riang Ibu sepulang dari rumah sakit.

Kamu salah.
Apa kamu lupa? Selalu ada yang diuntungkan dari masalah dan aib orang lain.
Ada yang diuntungkan. Ibuku.
Aku berhasil menghentikan ayahku menghianati ibu.



04 Jun 15
(L)
(Hati-hati Dengan Pilihanmu)
*Jangan taruh ponselmu sembarangan.*

Wednesday, 3 June 2015

Belum Waktunya

Apakah kita masih mengandalkan waktu sebagai pengobat luka?
Aku lupa. Kita kini adalah aku dan kamu.
Setelah semua alpa
Semua salah
Semua ketidakmungkinan dari waktu ke waktu yang terus terbukti ketika diuji coba untuk bertahan
Menyerah.
Meski seperti ini pun harusnya tak mengapa.
Tak selalu bersama pun tak masalah
Aku dan kamu dipaksa berpisah.
Jarak dan cemburu yang bajingan
Menyisipkan pertanyaan demi pertanyaan dari semua keyakinan
Apakah kamu masih berpikir waktu bisa mengobati segalanya?
Lalu untuk apa kamu datang lagi mencoba jadi penawar perih yang telanjur hingar bingar?
Lepaskanlah
Tak mengapa
Mungkin ini belum waktunya.

It's quarter after one
all alone and somehow wishing need you now.
03 Jun 2015
(L)

Tuesday, 2 June 2015

Pemandangan Dari Loteng

Salah satu alasan kenapa selalu suka nongkrong di loteng.
Ampera, langit senja dan bulan yang tak sabar menunggu malam. 😍💞

Di atas loteng kemarin sore,
2 Juni 15
(L)

Monday, 1 June 2015

#NulisRandom2015



                               
Penggagas: Brilliant Yotenega

Hari ini resmi ikutan  #NulisRandom2015 yang digagas oleh mas Ega, senang dan deg-deg-an campur aduk karena belakangan ini kalau nulis cuma masuk draft terus.
Seharusnya ga sulit sih... Selama ini.. eh maksudnya dulu postingan memang  selalu random, puisi, curcol, cerpen, ff, segala macamlah.
Terus stop.
Kenapa? Pasti itu pertanyaannya.
Karena suka ga enak hati kalau nulis tentang orang lain, ini salah satunya. Terus posting, terus orang baca, yang sebenarnya bukan tentang dia, nanti ada yang ngerasa dan salah paham.(Kalian pernah ga? pernah kan?)
Nulis tentang diri sendiri, nanti banyak yang jadi ga napsu makan..halah...
Jadi setelah menimbang untung ruginya aku memutuskan ikut, selain banyakan untungnya ini juga semacam reuni sama diri sendiri sih.

Persiapan menulis random ini sudah dimulai, sudah menyiapkan mental juga untuk dibaca lalu di-salahpahami, dikritik, diketawain atau malah dicela postingannya.:))
Biar sajalah.... kapan lagi bisa curcol elegan.
Meski tema random ayo nulis. Walaupun dengan bahasa Indonesia yang masih pas-pas-an, tetap menulis.
Sesuai harapan, "Belajar Untuk menulis, Menulis Untuk Belajar."
Mudah-mudahan pelajaran ini bikin naik kelas, minimal ga tinggal kelas. Kumpul tugas bisa penuh selama sebulan, dan bisa lanjut terus setelahnya.
Semangat!


Dari balik meja yang penuh tumpukan kertas,
01 Juni 2015
(L)


                                                                                       

 

Monday, 20 April 2015

Do You?

Do you love yourself?
Do you love yourself by default
Or
Do you love yourself knowingly there is no one will do?
No one will love you like you
Do you love yourself because you are too afraid to let others people love you?
too scared to let them know how you feel?
Can't trust them try to love you with their own way?
Are you too selfish to share your love?
Does it really hurt that the last time you give all you have willingly and it comes to an end, to pointless path, nowhere left to hide, and  even think that you can hurt yourself if it gonna make it ok, to make it all right again, without you?
Really?
Is it hurt enough for you, and finally choose to do anything all by yourself and for the sake your own sane?
Do you love yourself because you can't trust either love anyone again?
Do you?
Don't you?
I do
I don't
For most of the questions
Do you love yourself enough so no need anyone to love you anymore? 



Ditulis 20 April 15
Akhirnya posting lagi 21 Juni 2015 dengan penambahan di sana-sini. Maaf untuk sok enggres-nya.
(L)

*Draft is wonderfull I wish I can keep you in there too.

Sunday, 15 September 2013

Pernah kubaca, "satu kebahagiaan harus dikorbankan saat mengejar kebahagiaan yang lain."

Bisa bertemu dan berkumpul lagi, harusnya tak sia-sia namun kesenangan itu terlewatkan.
Tapi apa itu benar-benar kebahagiaan yang telah aku korbankan?
Apa itu juga benar pengorbanan?
Atau jangan-jangan kebahagiaan itu memang bukan untukku (lagi)
Dan yang kusebut pengorbanan hanyalah bentuk lain dari ego?

Maaf.. Aku tak datang,
Bukan karena tak sayang
Aku tak hilang, kalian tak lekang,
Bersama kita memintal ingatan jadi kenangan.
Harapan yang tak sempat disampaikan, kelak akan ditunaikan.
Walau tak bertemu, jabat tangan dan tatapan mata ketika bertemu masih selalu hangat.
Karena saudara adalah yang menyebut nama kita dalam kebaikan dan doa meskipun jauh.
Karena rumah selalu jadi tempat paling nyaman, tempat rindu-rindu dikumpulkan.


Selamat ulang tahun buah hati pertama NBC Palembang; NBC Unsri.
Selamat berbahagia, tumbuh menjadi besar dan teruslah melangkah, tinggalkan jejak manis di tiap pijakan.
Aku bangga menjadi bagiannya.

Banyak cinta,
Untuk teman-teman menulis di NBC Unsri yang 16 September esok genap satu tahun.

L, 15 September 2013
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Friday, 16 August 2013

Selamat ulang tahun, Pa.
Aku menyayangimu sungguh.
Banyak doa kupanjatkan, agar engkau sehat dan dimurahkan rejekinya hingga Aku punya banyak kesempatan untuk membahagiakanmu.

Love you as always.
L - 150813
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tuesday, 23 July 2013

Apa yang lebih penting?

Apa yang lebih penting selain komunikasi yang baik dalam suatu hubungan?

Apa yang lebih meyakinkan selain kepercayaan yang didapat bukan karena diminta?


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tuesday, 7 May 2013

#PuisiHore2 ~ Ini Cinta, Bukan lainnya

Kau adalah titik
Aku tinta yang mencari jalan menujumu
Tersesat
Berputar-putar
Antara satu plot dan plot lainnya
Sibuk dengan koma, imbuhan, akhiran dan tanda baca lainnya.
Aku tanpamu, adalah kisah yang tak bisa usai.

Setelah Kau ada
Jarak antara rentang dua tanganmu
Kerap kusebut rumah
Segala tentangmu candu
Namamu, rumah kaca tempat menyemai bibit rindu
Aku menyambangimu,
namun ruang yang kau diami terlalu penuh
Aku masih menunggu
Meski terlunta di ruang tunggu.




YPS, 7 Mei 2013

Sent from BlackBerry® on 3

Wednesday, 30 January 2013

Apa Rasanya Dua Kali Jadi yang Kedua?

Apa rasanya menjadi yang pertama?
Adalah pertanyaan yang tak akan pernah bisa dijawab oleh perempuan sepertimu.

Apa rasanya dikenalkan sebagai kekasih atau calon istri, pada keluarga dan sahabatnya dengan nada bangga, mungkin juga tak akan bisa Kau jabarkan kebahagiaannya.
Kau tak akan bisa menjawab hal-hal yang tak pernah Kau rasakan, tak pernah bisa Kau alami dan sepertinya tak akan ada kesempatan lain lagi.

Apa rasanya memakai pakaian bekasku?
Menyiapkan makan malam di dapur hasil sentuhan tanganku dan menggunakan perabotan yang semuanya pilihanku?
Apa kau juga kagum dengan isi lemari pakaian lelaki yang menyimpanmu?
Kemeja, celana panjang, dasi, kaos kaki bahkan pakaian dalam yang sering Kau pasang dan lepaskan dari tubuhnya, itu juga pilihanku.
Apa Kau suka ketika tangannya menyentuhmu? Tangan yang sama ia gunakan untuk menahan kakiku agar tak pergi.
Apa Kau menikmati kecupannya? Bibir yang sama kemarin memohon kesempatan kedua dan memulai dari awal lagi.
Semua yang Kau kira telah menjadi milikmu adalah apa yang tersisa dariku.

Apa kau bahagia dengan semua itu?
Sebelum menjawabnya...
Maafkanlah Aku,
Selalu memberimu bekasanku
Cinta, pria, bahkan ssttt.., pakaian dalam yang sedang Kau pakai saat ini.

Setelah ini, Aku yakin akan sulit bagimu tersenyum lebar lagi,
Aku kalah darimu dan menyerah.
Namun Kau kalah dua kali, tak akan pernah jadi yang pertama. yang kedua bangga dengan merasa berhasil merebut apa yang kutinggalkan, sisa-sisa.

Apa Kau betul menikmati jadi penghianat?
Apa rasanya dua kali jadi perempuan kedua?

hari ke-17

Tuesday, 15 January 2013

Sepucuk Surat

maaf, aku lupa gambar ini tempo hari google dapat dari mana :(



Kulipat kertas berwarna biru langit di kedua tanganku,, kertas surat yang sudah bernoda kuning di beberapa bagiannya, namun warna birunya masih teduh, seperti langit cerah pagi hari, atau warna yang dipantulkan tenangnya air laut..
Tapi tulisan di sana, melebihi gemuruh gelombang lautan yang menerjang pantai dan mampu menghancurkan apapun di daratan dengan satu kali sapuan, lebih menyakitkan mata dibanding cahaya matahari di musim panas yang coba engkau tatap.

Sekarang tubuhku ibarat es krim di luar mesin pembeku makanan, mencair..
Seakan-akan Matahari yang dulu engkau puja sebagai sumber hidup dan cahaya, sekarang makin mendekat bukan untuk membuatmu hangat, namun membuatmu lenyap.


"... Aku tak akan pulang, tugasku sudah selesai. Kamu boleh meminjam nama belakangku untuk anak Kalian. Untuk anakmu yang tak sempat diakui ayahnya. Tapi jangan minta Aku melakukan lebih dari ini. Aku sudah memaklumi orang ketiga untuk yang pertama kali di antara kita. Tapi sulit bagiku berdamai dengan orang ketiga untuk yang kedua kali. Hiduplah dengan bahagia. Selamat tinggal".

Surat ini cukup jelas bagiku, meskipun tintanya sudah mulai melebar tak karuan. Aku masih bisa membacanya, merasakan sakit saat ia ditulis, dan perih ketika ia dibaca.
Sepertinya hatiku saat ini ribuan kali lebih rapuh. Tepatnya, hatiku ini bukanlah lagi di tepian jurang. Aku jatuh. Dan remuk.


#Harike-3
Lia
Sent from BlackBerry® on 3

Saturday, 8 December 2012

Aku mohon diam saja

Bagaimana rasanya menyukai seseorang yang sudah jelas ada yang memiliki?
Bagaimana rasanya harus sering bertemu, tak bisa menghindari walau jelas itu selalu menorehkan perih?

Kenapa harus bertemu saat semua sudah tak mungkin lagi?
waktu yang tak tepat
kesempatan yang terlambat
dan sauh terlanjur tertambat.

Jangan katakan padanya apa-apa
Aku mohon diam saja
biarkanlah, kita menatap dalam diam


Sedang menghitung rintik hujan di hati.
8 Desember 2012

Monday, 3 December 2012

IMG00331-20121203-1651.jpg

Di acara BimTek Pramuwisata hari ini dapat ini : 3 bahasa loh yeayy :D

Sent from BlackBerry® on 3

Wednesday, 5 September 2012

Menemukan Sepotong Senja Berdua

Inspired from : Broken Vow - Lara Fabian

"Bisakah pura-pura bahagia? Dan melupa rasa jatuh cinta sesungguhnya?"

Aku menelan ludah. Mencoba menelaah kata per kata.
Berpura-pura? Tak ada masalah. Sejak bertemu denganmu. Aku selalu bersandiwara. Semua baik-baik saja. Hidupku? Sempurna.
Tapi melupakan rasanya jatuh cinta sesungguhnya? Padamu? Luar biasa akan memakan sisa waktu di hidupku.
Aku masih diam, masih mencoba berpikir apa ia sedang memintaku merelakan ia bersanding di pelaminan dengan orang lain?
Atau ia sedang mencobai ketabahanku sekali lagi dan berpikir aku menyerah saja?

 "Apa yang akan kudapat dengan lagi-lagi berpura-pura?"

Akhirnya terucap juga, seraya membalikkan badanku menghindari tatapanmu, menghindari mata setajam elang yang sejak pertama jumpa membuatku jatuh cinta.
Aku tak boleh jatuh lagi. Mencoba mengingatkan diri sendiri agar airmataku bertahan di balik rongga diantara cekungan mata yang jadi penanda cahaya.

 "Aku hanya mencoba berhenti menjejalimu dengan luka. Dengan permintaan maaf yang entah kapan habisnya, juga..."

Ya Tuhan ia berhenti bicara, semoga saja kamu tak mendekatiku dan melihat sia-sianya usahaku bahkan untuk mengendalikan airmata ini.
Tapi Tuhan punya rencana lain. Ia biarkan tanganmu menyentuh kedua pundakku, memutarnya hingga kita kembali saling berhadapan. aku menunduk, mencoba mengeluarkan sisa airmataku, tetes terakhirnya, karna kuakui lama kelamaan ini membuatku lelah.

 "Kamu juga berhak bahagia"

"Apa kamu, bahagia?"

Diammu mendengar pertanyaan barusan, membuatku merasa di atas angin dan sekelebat keinginan balas dendam padamu kembali melintas.

"Apa kamu bahagia berpura-pura bahagia?
Apa yang telah kamu dapat dari cinta? Selain tak berdaya, dan lari dari kenyataan kita mustahil bersama?"

 Dan sedetik kemudian airmata adalah tanda penyesalan tak sudah ketika melihatmu terdiam.

"Jawab aku, apa yang kamu dapat dengan membagi semua yang harusnya jadi milikku, dengan dia?"

Desakkan rasa lelah mempertanyakan cinta padamu membuatku jadi perempuan tanpa kesabaran sebagaimana mestinya.

"Cinta bukan matematika. Berkali kau bagi, bertambah luka dan perih, takkan menjadi nol semua rasa. Katakanlah, aku lelah dengan kita yang tak sempurna. Aku butuh hidup sempurna yang nyata. Dan bersamamu, bukanlah jawabnya. Bahkan bukan lagi pilihan jika aku harus melangkah ke masa depan."

"Kamu yang membuatku jatuh! Kamu yang.. Kamu yang mengatakan, semua tak akan berarti jika kita tak bisa bersatu lagi?"

Aku mengusap airmata sendiri, menahan jantung yang kali ini hampir berhenti. Kamu hanya diam, menatapku,

"Aku salah, sekali lagi maaf." ucap yang keluar dari bibir tipis warna Divine Red kesukaanmu

Aku berlutut, kedua kakiku lemas, membiarkan pasir basah mengotori celana jeansku.
Membiarkan diriku terbenam di dalamnya jika mampu.
Siapa lagi yang bisa kupercaya jika kamu saja menghianatiku?
Pada apa lagi aku harus berpegang, jika satu-satunya sandaran, hilang.

Aku patah hati. P-A-T-A-H  H-A-T-I

Aku patah hati padamu yang patah harapan. Terluka pada setiap ucap pengakuan bukan aku lagi tujuan di masa depanmu nanti. Apalagi? Apalagi yang harus aku tangisi?

"Sempurna, kisah lengkap sudah. Katakanlah, kamu bahagia. Pertempuran kali ini, Aku kalah."

Kamu mengangguk mengiyakan, memastikan aku benar kalah.
Bukan sedang pura-pura menyerah seperti sebelumnya. Aku yang tak bisa memberimu bahkan sekedar berjanji untuk membahagiakanmu.
Aku yang tak sempurna, cinta yang tak semestinya ini, bagaimana aku bisa membuat kisah kita sempurna? Senja yang sama. namun dengan hati yang berbeda.
Aku padamu dan kamu padanya.

"Kamu mungkin merasa nomor satu, tapi takkan berarti tanpa aku, menjadi yang kedua dengan setia."
 Jeritku pada punggungmu yang melangkah menjauh, meninggalkan aku dan perasaan ini, kosong.

Aku memasuki mobil memutar stop kontak. Di jok sebelah ada undanganmu dan foto prewedding kalian yang nista bagiku.
Laki-laki itu, memelukmu. Aku benci dia, yang membuatmu jatuh dan mencintainya, menjanjikanmu hidup sempurna, anak, dari rahimmu, apa yang tak bisa kuberi sebagai sesama perempuan, untukmu.

Kuinjak pedal gas dalam-dalam. Mengarah ke laut lepas. Menyembunyikan semua airmata pada air laut adalah pilihan dalam hidupku setelah di dalamnya tak ada lagi kamu.
Kita menemukan sepotong senja berdua. Kau di matanya. Aku, di matamu yang sedang tergila padanya.

*Menemukan sepotong senja berdua, mungkin akan jadi kisah paling sederhana.
Aku, kamu, dia. Tiga tokoh akan terluka karna rasa yang sia-sia.*

Lia, 04 September, dini hari tanpa penjaga hati.

Wednesday, 8 August 2012

Mengejar Rahasia

Inspirasi: Di Atas Normal - Peterpan


"Syaratnya sudah kamu bawa? " Perempuan tua yang usianya kuperkirakan hampir seabad itu menatapku dengan matanya yang hanya sebesar lubang kancing, tajam.

Aku mengangguk pelan, menatap mulutnya yang ketika berbicara sesekali meludahkan cairan berwarna kuning bata ke mangkuk seng yang sudah berkarat.
Aku bergidik. Bertanya dalam hati, apakah semua orang yang memiliki kemampuan supranatural itu harus memiliki pembawaan dan wajah yang menakutkan?

 "Jangan takut, saya akan mencoba membantumu dari sini, tapi tak banyak yang bisa saya lakukan karna orang yang kita cari sudah meninggal."

Aku terdiam. "Ya Tuhan, ia tahu isi hatiku. Semoga saja ia tak tersinggung." Aku membatin.

 "Kamu sedang haid kan? Bagus! Dengan begitu para roh akan lebih mudah kamu temui." Katanya seraya meraih pakaian Ibu yang aku sodorkan segera saat menanyakan syarat yang ia minta. Pakaian ibu kandungku, perempuan yang membawaku ke Panti asuhan 22 tahun yang lalu.

 "Aku tak bisa menemukan siapa ayahmu, tak ada petunjuk apa-apa dari ini." Mulut penuh kunyahan kapur sirih itu kembali berbicara dan sesekali jempol dan telunjuk tangan kanannya menggosok-gosokkan gumpalan kapur sirih yang sudah menghitam itu di giginya.

Aku mulai merasa mual.

"Apa perempuan ini benar ibumu? Apa kamu sudah siap bertemu dengannya? Dia tak mau memberitahu apapun pada saya. Kamu harus menemuinya sendiri." Aku merinding, semoga saja ibuku tak menyeramkan di sana. Karna Ibu panti bilang dulu ibu sangat cantik. Ya, secantik diriku.
Kemudian aku mengangguk pelan, dan sejenak kemudian menjawab, "siap, aku siap Nyi." Setelah menyadari paranormal itu masih memejamkan matanya sejak tadi.

 "Aku akan memagarimu dari sini, jadi saat kamu berjalan di sana, tak ada yang bisa menyentuh apalagi menyakitimu. Kamu bisa berbicara atau menyentuh dan memeluk ibumu. Tapi ingat, jangan pernah ikut masuk ke tempat yang pintunya berwarna merah!
Jangan! Karena sekali kamu masuk, maka kamu tak akan bisa kembali lagi.
Dan kami terpaksa memakamkan kamu di sini."

Baiklah kali ini aku mulai merasa takut, kerimgat dingin mengalir, aku menutup mulutku rapat-rapat menahan diri agar tak mengeluarkan sepatah katapun, jadi Nyi Rohaya tidak akan membatalkan semuanya karena tahu aku sangat ketakutan. Aku mulai berpikir akan melanjutkannya atau tidak, proses pencarian yang disebut Lis sebagai hal gila, mustahil dan di luar batas normal.

"Kamu ga harus melakukannya Mia, Reza mau menerima kamu apa adanya.
Orangtuaku, Ibu Panti, semua tak keberatan menjadi wali di pernikahanmu. Keluarga Reza juga mengerti. Jangan Mia, perasaanku ga enak. Hidup kita sudah baik-baik saja. Sudah normal. Kamu ga perlu mengejar hal yang ga pasti. Ga perlu mencari tahu apapun tentang masa lalumu, bagaimana jika apa yang kamu tahu nanti malah akan melukaimu?
Aku takut Mia, kamu sahabatku, aku ga bisa ngeliat kamu ngambil resiko ini." Lis menangis sesegukan sambil memelukku.

"Lis, kita sudah di sini, sudah telanjur. Aku harus tahu kebenarannya. Walaupun itu akan menyakitiku. Aku ingin tahu alasan kenapa harus hidup dan besar di panti! Aku harus tahu sebab penderitaan dan kesepianku hidup sebagai yatim piatu selama 22 tahun! Aku harus tahu siapa ayahku! Jadi menemukan ibuku dan bertanya padanya aku rasa masuk akal, meskipun harus mengejarnya ke akhirat sekalipun. Ibuku harus membuatku mengerti. Setelah aku tahu alasannya, aku akan puas." Jawabku angkuh. Lis memelukku. Aku membalas pelukannya, erat.

"Aku sayang kamu Lis, sebagai sahabat, bahkan kalau boleh sebagai saudara yang tak pernah akan aku miliki. Kalau sampai batas waktunya aku tak pulang lagi, tolong kubur aku dengan layak dan ceritakan semua yang kamu ketahui pada siapapun yang bertanya."

Lis mengangguk sambil terus mengusap air matanya. "Aku sayang kamu Mia, kamu saudaraku. dan akan selalu begitu. aku janji akan melakukan semua yang kamu minta. tapi aku mohon, kembalilah secepatnya atau minimal tepat waktu, berjanjilah, aku mohooonnnn... berjanjilah...."

Aku tersenyum getir. Mengangguk. Lalu berbaring di dipan rotan milik Nyi Rohaya, memejamkan mata, sebelum paranormal itu menutupi seluruh tubuhku dengan kain kafan putih, melumuri kepalaku dengan air perasan jeruk purut yang sudah dicampur dengan air dingin dan bunga 7 warna.

"Ingat, waktumu tak lama, ibumu memakai pakaian yang sama dengan yang kamu bawa tadi, jika ia menangis, itu artinya waktumu akan segera habis, segera berbaliklah darinya, tutup matamu dan jangan sekali-sekali menoleh ke belakang lagi, ikuti suara saya yang memanggilmu dari sini. sekarang pejamkan matamu dan berjalanlah lurus ke depan nanti." Aku menganggukkan kepala, menurut.

***************

Aku memejamkan mata lagipula wajahku memang sudah tertutup kain sejak tadi dan mendengar Nyi Rohaya mulai membacakan entah mantra apa berulang-ulang sambil sesekali menyebut namaku. Lalu bergumam, berdendang, dan makin lama terdengar makin bising di telinga. Mataku mulai perih, mungkin jeruk purut itu yang jadi penyebab, lalu telingaku terasa berdengung, refleks aku menutup telinga, dan seketika aku merasa sunyi dan sangat dingin, dingin yang menusuk tulang, lalu pelan-pelan membuka mataku dan seketika melangkah mundur, "tempat apa ini?" batinku sambil melihat sekelilingku yang sangat asing.

Aku melangkah pelan, kanan dan kiriku gelap, berkabut, lalu aku ingat untuk terus maju, hanya dalam hitungan 4 langkah aku mendengar suara di depan sana, "Sini nak, sini... Yang kamu cari ada di sini..."
aku memicingkan mata mencoba memperjelas pandangan, melangkah mendekati asal suara perlahan, aku menemukannya...!
"Ibu, aku kangen." Jeritku penuh haru setelah memastikan perempuan itu memakai pakaian yang sama dengan yang aku bawa ke rumah Nyi Rohaya. Pelukannya terasa hangat, rupanya seperti ini pelukan seorang ibu yang lama aku rindukan.

Perempuan itu mengusap rambutku dan menghapus airmataku yang entah sejak kapan menetes. ia menggandeng tanganku. lalu aku dibawa ke suatu tempat dan melihat apa yang terjadi di dunia, iya di dunia semasa ia hidup. semuanya terjadi di depan mataku, seperti layar televisi raksasa dengan gambar yang sangat jelas, melebihi film 3D yang aku tonton menggunakan kacamata khusus di bioskop, tak ada yang tak jelas, bahkan kabut yang sempat membuat mataku perih saat baru sampai tak ada sedikitpun.

Aku mulai mengerti. Pelan-pelan. Aku mulai memahami. Perempuan yang kupanggil ibu ini dihamili lelaki bajingan yang menolak tanggung jawab untuk dipanggil ayah oleh anaknya nanti.
Pria beristri dan mata keranjang itu, berbohong, ia tak menepati janji untuk meninggalkan istrinya yang saat itu juga sedang hamil bahkan setelah istrinya melahirkan pun ia tetap berkilah dan mencoba melepaskan diri dari tanggung jawab.
Kemudian apa yang aku lihat membuat tubuhku gemetaran. Ibuku yang sedang hamil besar mengambil bayi mereka. pulang ke rumahnya yang sempit di daerah kumuh pinggiran kota. Melihatnya melahirkan hanya dibantu dukun beranak kampung. Aku melihat diriku sendiri dilahirkan ibuku. Aku menangis, terharu.

Tapi apa yang kulihat selanjutnya membuat tubuhku menggigil tak karuan.
Tanganku dingin, lebih dingin dari ruang-yang-entah-apa-namanya-ini. Aku merasa kakiku lemas, aku tersungkur, dan kali ini tangisanku bukanlah karena haru. Tapi marah, benci, aku mulai mencaci, mengeluarkan sumpah serapah kepada perempuan yang tadinya  kupanggil Ibu. Aku merasa sangat dingin dan napasku makin cepat, tepatnya terengah-engah, entah karena amarah yang hampir meledak atau menyadari aku pergi sejauh ini hanya untuk menghancurkan hatiku sendiri!

Di depan mataku, aku melihat ia memindahkan gelang, kalung, juga gelang kaki, menukar popok yang terbuat dari kain katun dan indah milik bayi yang ia culik dengan popok sederhana milik bayinya sendiri. Kemudian setelah menitipkan bayi yang ia culik kepada tetangganya, ia membawa bayinya ke panti asuhan dan meninggalkan bayi itu diam-diam di depan pintu panti asuhan dan beberapa hari kemudian datang membawa bayi yang ia culik ke panti asuhan yang sama, mengakui sebagai ibunya dan menitipkan pada ibu Meta.

Jadi bayi yang ia lahirkan bukan aku. Aku bayi yang diculik itu. Kali ini aku benar-benar tak bisa menahan diri, jadi seharusnya aku yang ditemukan, bukan Lis. Seharusnya aku yang  hidup bahagia bukan Lis. Seharusnya aku benar-benar menjadi perempuan yang paling beruntung itu. Bukan lis. BUKAN LIS!!!!!!!

Kamu benar Lis, kenyataan yang aku dapat sangatlah menyakitkan. Seharusnya aku tak perlu mengejar perempuan itu dan menemukan kenyataan pahit seperti ini, seharusnya aku tak perlu tahu masa laluku, dan akhirnya menemukan alasan kenapa aku harus dibuang ke panti asuhan sangatlah keterlaluan. Dan orang yang sangat keterlaluan itu ibumu Lis, ibu dari orang yang kuanggap sahabatku, saudaraku, yang ternyata perempuan simpanan ayahku yang ingin membalas dendam.

Aku mengangkat wajahku, menatap perempuan itu, ibumu. Ia menunduk, wajahnya basah, ia menangis. Lamat aku dengar suara Nyi Rohaya memanggilku, "sudah waktunya pulang nak, berbaliklah, segera, ayo jangan tunggu lagi, kamu sudah terlalu lama, berbaliklah dan pejamkan matamu!"
Suara itu bergema di telingaku, berulang-ulang, makin lama makin cepat dan makin mirip sebuah jeritan. Tapi amarah menulikan telingaku, aku bangun dengan cepat, berusaha meraih perempuan itu, berusaha menarik pakaian ibumu, tapi ia sepertinya sudah tahu apa yang akan aku lakukan.
Ia menghindar, berlari, dan aku mengejarnya,  aku ingin mencekiknya, membuatnya mati kehabisan napas, membuatnya mati lagi dan lagi, karena membuatnya mati dua kali pun tetap tak akan membuatku puas karna sudah membuatku menderita sebagai yatim piatu selama 22 tahun. Mengecoh semua orang sehingga yang ditemukan adalah Lis anaknya, bukan aku.

Aku terus mengejarnya, sesekali pakaiannya hampir kuraih, membuatku makin bersemangat mengejarnya. Tapi kemudian terlepas hingga aku terus mengejarnya. Dan lalu ia tiba-tiba berhenti berlari. aku menabraknya, membuatnya terjatuh.
"Kena kau, kali ini kamu akan merasakan mati sekali lagi, dan akan kupastikan ini lebih menyakitkan dari sebelumnya!" aku mengumpat, menjambak rambutnya, menamparnya, meludahinya, mencakar wajahnya sekuat tenaga.
Ia tak melawan Lis. Dia diam saja. Malahan tersenyum seraya menghapus airmatanya, airmataku dan mengusap rambutku yang berantakan karna kelelahan berlari dan seakan sadar usahaku untuk membunuhnya adalah sia-sia.

"Tinggallah di sini nak, aku tahu kamu sangat ingin bertemu denganku kan? Selamanya, di hatimu, aku adalah ibumu, bukan istri bajingan itu. Aku juga Ibumu nak. Aku menyusuimu, menyanyikan lagu agar kau tertidur lelap di pelukanku, aku memandikanmu, memastikan kamu kenyang, memastikan tidurmu nyenyak, saat anakku sendiri sejak lahir kutinggalkan di panti asuhan."

"Kamu perempuan iblis!" Caciku sambil menepiskan tangannya.

"Itu juga yang diucapkan mamamu. Tapi papamu selalu memanggilku 'Malaikat Cintanya' karena itu aku serahkan semua, aku percayakan hidupku di tangannya. Dan setelah tahu itu hanya kebohongan, semua kebohongan, aku memilih mati, karena hidup yang aku impikan, hidup bahagia yang pernah ia janjikan tak akan pernah bisa terwujudkan." Ia menatapku dengan lembut Lis. Tatapan dari seorang ibu yang aku rindukan selama ini, Aku mulai merasa bersalah karena kasar pada ibumu.

"Tapi kenapa kamu harus menyakitiku? Kenapa harus membuangku dan membuatku menderita selama ini? "

"Tidak lagi, mulai hari ini aku akan merawatmu, aku akan menyayangimu dan menjadi Ibumu. Karena kamu pantas jadi anakku, hanya kamu yang merindukan dan mendoakanku setiap malam."

"Aku ga mau!" Aku berusaha mundur dan melepaskan pelukannya, Lis. "Jemput saja anakmu. Aku mau kembali, aku akan menikah dengan lelaki yang mencintaiku. Aku akan punya orangtua. Hidupku akan jauh lebih baik. Aku akan bahagia." aku merasa jeritan histerisku cukup keras dan bisa menghancurkan tempat itu jika saja terbuat dari kaca, tapi sayangnya bukan..

"Terlambat."

Aku melihat ke arah di mana perempuan itu menunjuk, di depan mataku, aku melihat bayanganmu Lis, memeluk Reza. "Tidaaakkkkkkk! Tolooonggggg......!" Ini ga mungkin, ini ga boleh terjadi, aku menjerit semakin kuat, suaraku seperti dengung radio yang tak ada siarannya nada tinggi yang menyakitkan bahkan telingaku sendiri. Berharap Kamu, Reza, Mama, Papa, Nyi Rohaya, Ibu Meta, siapapun bisa mendengarku. Bisa menolongku.

"di sini waktu berjalan cepat, satu menit di sini adalah satu hari di dunia nak, kamu sudah pergi terlalu lama. Sudah terlambat. jasadmu pasti sudah dikuburkan." Suara Ibumu membuat tangisku makin menjadi, tubuhku terasa tanpa tulang.

Aku berbalik, tubuhku yang terasa lemas tak mampu berlari membuatku berusaha secepatnya berjalan menyeret kakiku menjauh dari ibumu, memejamkan mataku, berdoa, berharap segera terbangun di kerasnya dipan reot dari rotan milik Nyi Rohaya. Di rumah sederhana di pinggiran kali yang bahkan aku tak tahu namanya.  Aku berharap ini hanya mimpi, mimpi seperti namaku Dremia. Tapi aku merasa membentur sesuatu. rasa penasaran membuatku membuka mata dan kulihat jelas pintu tinggi berwarna merah tertutup di depanku.

**************
(Dua hari sebelumnya)

 "Siapa sih yang ga punya rahasia dalam hidupnya? Kamu? Aku? Siapapun pasti punya, sekecil apapun, termasuk orang tuamu! Jadi biarkan saja rahasia itu, tinggalah denganku dan keluargaku."

 "Kamu bukan aku, ga akan sekedipan matamu merasakan jadi aku, apa pernah kamu bayangkan sudah 22 tahun hidup dan mungkin untuk selama umurmu tak tahu siapa orang tuamu? Pernah?!"

 "Oke! Terus mau kamu apa? Ngacungin pisau ke Ibu panti dan maksa mereka ngasih tahu kamu, sesuatu yang bahkan mereka ga pernah tahu?! Please Mia, please, kamu jauh lebih beruntung daripada siapapun yang kamu kenal!"

 "Termasuk kamu? Ohh come on Lis, kamu bisa ngomong kayak gitu karena kamu sudah bertemu orangtuamu!"

"Aku mencoba menganggap keras kepalamu itu sebagai kelebihan yang bikin aku betah jadi sahabatmu, Dremia!"

Aku diam. Memandangi Relysta. Memandangi punggung yang sering kusandari saat lelah berlarian di halaman panti, rumah yang kami tempati sejak kecil itu menjauh. Menghela napas panjang dan mulai mengusap air mataku sendiri.

Lis ga akan pernah ngerti. Aku ga seberuntung apa yang ia katakan. Setidaknya jika dibandingkan dengan dirinya. Hanya mencicipi 16 tahun sebagai anak panti dan merayakan ulang tahun yang ke 17 di Hotel Mulia, hotelnya orang gedongan karena akhirnya ditemukan orangtua kandungnya. Membuat hidupnya berbalik 180 derajat.
Dan aku? Aku masih terjebak dengan rutinitas panti hingga usiaku sekarang, 22 tahun, tak tahu apa-apa soal siapa orang tuaku selain hanya tahu ibu meninggal dunia sehari setelah meminta ibu Meta merawatku, orang yang sama selama 22 tahun seterusnya kupanggil ibu hingga hari ini. Bangun jam setengah 5 pagi, membantu menyiapkan sarapan, mencuci pakaian, membereskan rumah, lalu berangkat ke kantor berjejalan dengan penumpang lainnya di dalam mikrolet, kujalani 1 tahun lebih, tahun-tahun sebelumnya hampir dengan rutinitas yang sama, ga.. Re ga akan ngerti ini, sebelum tamat SMK saja ia sudah menikmati jok mobil papanya yang empuk, tak merasa kepanasan, tak pernah kehujanan, dan tak pernah kelelahan mengantri mikrolet, atau bus. Meskipun akhirnya ia tak bisa bebas ke mana-mana sepertiku setelahnya. Jadi wajar saja ia berpikir usahaku menemukan orang tua kandung adalah gila!
Aku memang mulai gila, setidaknya memikirkan tak punya ayah sebagai wali di pernikahanku nanti adalah mimpi buruk bagi perempuan manapun.
Aku ingin hidup normal juga Lis, sama seperti yang kamu dapatkan sekarang,  lagipula tak salah rasanya aku berharap, siapa tahu ayahku masih hidup, dan ada di suatu tempat. Tempat di mana hanya ibu kandungku tahu letaknya.


 *****

 "Lis, aku sudah menemukan cara mudah untuk sekedar tahu siapa orang tua kandungku, dan tebak, aku sudah berhasil membujuk Reza agar setuju!"

 "Reza? Kamu sudah ngasih tahu semua ke dia?"
 Kupikir sebagai calon suamimu memang ia berhak tahu apapun rencanamu, termasuk masalahmu. Toh kalian akan berbagi apapun setelah menikah nanti. Iya kan?!

Aku diam, pelan-pelan mengangguk mengiyakan. Lis benar. Reza harus tahu harapan terbesarku selain menikah dengannya dan menjadi ibu yang baik bagi anak-anak kami kelak adalah menemukan Ayah.

"Sekarang beri tahu aku apa rencanamu..!" Katanya terburu-buru.

Setelah aku menceritakan semua usahaku untuk menemukan ayah, Lis hanya bisa terdiam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, "ini gila! Gila!" katanya berulang-ulang.
"Iya, tapi cuma ini satu-satunya kesempatan yang aku punya."
"tapi ini sangat bahaya, Mia,kamu yakin orang itu bisa melakukan ini? dan kamu bilang ada kemungkinan kalau..."
"sttt.... Tolong coba ikut berpikiran positif, aku akan menemukan ayahku, Lis. Akhirnya aku akan punya Ayah."
"Aku harap kamu temukan apa yang kamu cari." Matanya berkaca-kaca seraya memelukku erat. Aku hanya bisa mengangguk.

Ingatanku kembali saat ia menceritakan bagaimana ketika bertemu orangtuanya.
Re menceritakan bagaimana cara orang tuanya berhasil menemukannya di panti asuhan ini yang letaknya terpencil di perkampungan penduduk. Cara yang juga di luar nalar, tapi berhasil. Hanya berbekal popok dan foto bayimu, mereka mendapatkan info dari seorang paranormal, orang pintar, cenayang, ahh apalah namanya. Yang jelas ia tahu kalau anaknya disembunyikan orang yang menculiknya di panti ini. Bahkan ia dengan tepat menyebutkan bahwa nama bayi mereka dimulai dengan huruf "R" .
Aku terbelalak, dan tak lama kemudian mataku mengerjap penuh harapan. Kalau benar begitu, tak akan sulit menemukan orang tuaku. Pasti!!

 Aku ingat saat itu meloncat kegirangan, gadis 16 tahun yang kesenangan ketika tahu sahabatnya akan segera berkumpul dengan orangtuanya.Aku  memeluk Re dengan kencangsaat itu hingga ia menjerit-jerit mengeluh sesak napas.
"God, this is not a good news, this is Heaven! "Surga Lia, ini berita dari Surga! S U R G A !!! " Kataku masih sambil meloncat kegirangan.

"Berbahagialah untukku, Lis"
Lis tersenyum. Ia mengangguk, matanya berkaca-kaca, aku terdiam, aku tahu kaca-kaca itu akan segera berhamburan sesaat lagi, ahhh Lis sangat sentimentil, hal kecil saja bisa membuatnya menangis haru, apalagi kali ini, sahabatnya ini, aku, akan segera menemukan ayahku!!! Wohoooo!!!! Aku menjerit kegirangan!


 ****


- It is (Maybe Still Not) THE END -







Lia,
08 Agustus 12
persembahan kecil untuk Peterpan.


Sunday, 29 July 2012

Nyasar

Dunia ini penuh misteri.
Termasuk Kenapa Tuhan menciptakan orang yang dalam mimpi saja bisa nyasar.

Jika hari ini bukan hari Minggu, mimpi seperti ini mungkin tak akan pernah kualami.
Begini ceritanya...
Tidur menjelang jam enam pagi di hari Minggu adalah kemewahan.
Bukan berarti aku tidur di ranjang yang bertabur intan permata
Ataupun hotel berbintang enam seperti iklan di salah satu Tv swasta.
Bukan.
Cuma butuh mandi pake sabun dengan wangi mewah yang.. Ahhh sudahlah... Lanjuuttt..

Tidur mewah itu...,
Hari Minggu, ga dapet shift kerja, ga ada janji di pagi hari. Kamar yang sepi. Lampu dimatiin. Gorden ditutup rapat. Mp3 on. Earphone ready. Baju yang nyaman. Dan selimut.
Oya.. satu lagi, terserah mau bangun jam berapa.

Jadi hari ini, jadwalnya tidur mewah.
Menjelang jam enam pagi, setting udah oke.
Aku merem.
1 menit berlalu...
2 menit berlalu...
3 menit berlalu...
Yiruma masih maen piano.
Errr.. Lupa pake jam tangan, jadi ga tau persis ketiduran jam berapa.
Kemudian tiba-tiba aku kebangun langsung duduk, ngucap alhamdulillah ngeliat batere hp yang masih setengah.
Ketika mau mencet no telepon sodara, dan minta petunjuk ke jalan yang benar karena aku nyasar.
Ehh.. Waittt.. Tetiba nyadar kog di layar tulisannya, " 06:25 Sunday, 29 July "
Ngeliat diri sendiri masih pake kostum punggawa kerajaan. Ehh.. Pakaian tidur kebesaran.
Bukan semacam pakaian khusus yaa, tapi ini karena kaosnya emang ke-besar-an.
Ya kira kira muat 1 RT lah.
Langsung self toyor.

Haaaaahhh... (۳ ˚Д˚)۳

Baru ngeh, aku mimpi nyasaarrr masaaaa.. ┬┴┬┴┤\(˘̩̩̩﹏˘̩̩̩)⁠/├┬┴┬┴

Ga banget deh.
Apa ini karna aku belom tau letak pasti lokasi buat buka puasa bareng ntar?
Kenapa jadi semacam terror ya?
Apa mungkin maksudnya lain kali aku harus survey lokasi pertemuan minimal 1hari sebelumnya jadi ga bakal mimpi nyasar gini?
*speechless*
Mungkin lain kali aku akan prepare soal lokasi.
Atau bawa peta mungkin?
Mungkin juga tidak. Jangan protes.
Karena apa yang akan terjadi esok kan ga ada yang tahu.
Toh sekali lagi 'dunia ini penuh misteri ' ya toohh??

Tapi ya sudahlah, Tuhan kan selalu punya maksud untuk semua ciptaannya?
Mungkin nanti jodohku itu adalah orang yang ingatannya detil termasuk apapun yang ia baca saat melewati suatu tempat. Let say aamien. :')
Ahh, ada gunanya juga mimpi nyasar ini, setidaknya jadi punya bahan update blog, meski tetep ga penting bagi bangsa dan negara.

Moral of the story, persiapkanlah apapun semampunya sejak jauh hari agar tak ada satu hal yang bikin kamu cemas sampe kebawa mimpi.
*cieee.. Kumat sok wise lagi* xD

Let's enjoy our Sunday

Lia. Still on her bed. Laughing at herself.

Wednesday, 20 June 2012

Keyboard Shortcuts Untuk PC dan Mac

15 Keyboard Shortcuts You Probably Don't Know

Navigate your computer more easily with the push of a few buttons

By Amanda Greene


keyboard shortcuts
Photo by: Thinkstock
Special Offer
Most expert computer users know the basic keyboard shortcuts, like pressing Control (Ctrl) + P on a PC to print a document. But did you know there are plenty of other useful—not to mention pretty darn cool—key combinations out there? From instantly zooming in to a larger view to quickly closing your browser window, these shortcuts will put the World Wide Web and more at your fingertips—because every second counts.

1. Add a Bookmark


Tab your new favorite website for easy access by bookmarking the page with the following quick trick.
PC: Ctrl + D
Mac: Apple key (see right) + D
 
2. Delete Forever
When you know you want to nix a file forever—instead of sending it to clog up the recycling bin first––tap the keys below.
PC: Shift + Delete
 
3. Close Browser
Whether your boss walks up while you're reading gossip blogs or your husband comes in the room while you're buying him a gift, close your browser, stat, with this shortcut.
PC: Alt + F4
Mac: Ctrl + Q

 
4. Show Desktop
If you have lots of windows open on your computer and you want quick access to your desktop—or a super-quick way to hide your work—hit the following keys.
PC: Window key (see right) + D
Mac: F11
 
5. Find Files or Folders
Forget painstakingly searching all of your folders to find one file. The shortcut below will do the searching for you.
PC: Window key + F
Mac: Apple key (see right) + F
 
6. Change Zoom Level
Whether you're working on the Web or in a word processing program, zoom in or out with this command.
PC: Ctrl + scroll mouse wheel
Mac: Apple key + plus sign; Apple key + minus sign
 
7. Reopen Previous Tab in Browser
Have you ever accidentally closed the browser tab you were looking at and had to spend time backtracking to find it again? The shortcut below will restore that page to you almost instantly.
PC: Ctrl + Shift + T
Mac: Apple key + Z
 
8. Switch Between Open Programs
Navigating between open screens can get confusing. Make it easy to move among all your programs with this quick trick.
PC: Alt + Tab
Mac: Apple key + Tab
 
9. Take a Screen Shot
Capture an image of what you're working on instantly with a screen grab—it's particularly useful for Web pages you can't copy and paste.
PC: Print Screen (then paste [Ctrl + V] into a Word document)
Mac: Apple key + Shift + 3
 
10. Refresh a Webpage
Whether you're waiting for a new email to arrive or the latest news story to pop up, easily refresh your screen using the keys below.
PC: F5, or Ctrl + R
Mac: Apple key + R
 
11. Go to a Previous Location in Browser
Time travel with the neat shortcut below, which lets you quickly go back to the webpage you were looking at before your current one.
PC: Alt + ←
Mac: Apple key + [
 
12. Spelling/Grammar Check
No more excuses: Perfect spelling and grammar is just one keystroke away.
PC or Mac: F7
 
13. Add "http://www" to Your Browser's Address Bar
The quickest route to your online destination? Just type in the name of the webpage you'd like to go to (for example, type "Google"), then press the following keys to add the "http://www." to the beginning and ".com" to the end.
PC: Ctrl + Enter
Mac: Apple key + Enter
 
14. Select the Address Bar
When you want to quickly type a new URL into your browser, the shortcut below will easily select the address bar for you, so you can start typing without moving your mouse.
PC: Ctrl + L, or F6
Mac: Apple key + L
 
15. Launch the Windows Start Menu
Just tap the keys below for an easy way to view your Start Menu options.
PC: Window key, or Ctrl + Esc

sumber : http://www.womansday.com/life/15-keyboard-shortcuts-you-probably-dont-know-114108?link=emb&dom=yah_life&src=syn&con=blog_wd&mag=wdy